Calon Gubernur yang Profesor, Peta Kekuatan AJB Jelang Pilgub Jambi


Jambi - Asafri Jaya Bakri (AJB) serius berlaga di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jambi pada 2020 mendatang. Walikota Sungai Penuh dua periode itu satu-satunya kandidat yang sudah memasang Billboard di semua Kabupaten/Kota.
——————————
Kedatangan AJB kerumah Mantan Gubernur Jambi Hasan Basri Agus (HBA) beberapa pekan lalu bukanlah silaturahmi biasa. Ada agenda penting yang dibahas. AJB dan HBA berdiskusi banyak hal, terutama soal Pilgub Jambi 2020.
Politisi Demokrat ini rupanya datang memohon restu. Untuk ikut berlaga di ajang lima tahunan itu. Ia meminta dukungan karena menganggap HBA sebagai seniornya.
“Pak HBA menyarankan ke pak AJB untuk maju,”ujar sumber Jambi Link di lingkaran terdekat HBA.
AJB pun langsung tancap gas. Keluarga dekat dan sahabat ia kumpulkan. Termasuk istri dan anak-anaknya.
“Bismillah…..maju,”
Tekad AJB sudah bulat.
Pantauan Jambi Link, AJB satu-satunya kandidat yang kini sudah mengiklankan diri lewat Bilboard yang terpasang di seluruh Kabupaten/Kota.
Di Kota Jambi misalnya, foto AJB terlihat tegak di sekitaran Masjid Agung Alfalah dalam ukuran besar.
“Pemasangan Bilboard di semua daerah sudah di mulai sejak kemarin malam,”kata Cang, salah satu tim AJB.
Cang menyebut AJB serius maju.
Seperti apa kans AJB? Mampukah AJB mengkonsolidasikan etnis Kerinci dan memobilisasi massa daerah lain?
Pengamat Politik Dr Jafar Ahmad mengatakan, sosok AJB patut di perhitungkan dalam Pilgub mendatang.
Menurut Jafar, AJB mempunyai bekal cukup dan kekuatan besar untuk menang.
Jafar menyontohkan, AJB sukses mengantar putri kandungnya, Ezzaty ke DPRD Provinsi Jambi dengan suara fantastis.
Sebagai tokoh muda yang belum cukup dikenal, Ezzaty mampu mendulang 32 Ribu suara.
“Ini sesuatu yang sangat luar biasa. Ezzaty berhasil menghimpun setengah pemilih di Kota Sungai Penuh. Tentulah ini karena peran AJB,”kata Jafar.
Karena itu, Jafar yakin kalaulah AJB yang berlaga langsung, tentu suara yang bisa di mobilisasi jauh lebih besar. Sosok AJB boleh jadi akan menyatukan suara etnis Kerinci di Pilgub mendatang.
Menurut Jafar, kekuatan AJB itu bisa dijelaskan berdasarkan teori Bourdieu.
Jafar menjelaskan, sosiolog Perancis Pierre Bourdieu (1930-2002) membagi beberapa jenis modal yang memungkinkan seseorang bisa mendapat kedudukan atau kekuasaan.
Seperti modal ekonomi (berupa uang, kekayaan atau property).
Ada Modal sosial (berbagai jenis relasi dan jaringan). Maksudnya, modal yang diperoleh melalui relasi sosial, berupa jaringan informasi, norma-norma sosial dan kepercayaan yang melahirkan kewajiban dan harapan.
Lalu modal kultural, misalnya Pengetahuan, kualifikasi pendidikan, gelar akademik dan bahasa.
Terakhir adalah modal simbolik seperti prestise, kehormatan atau karisma.
Dalam konteks politik, kata Jafar, mereka yang menguasai keempat modal tersebut dalam jumlah besar akan memperoleh kekuasaan yang besar pula.
“AJB mempunyai empat modal sekaligus,”katanya.
Begini penjelasannya.
AJB adalah mantan rektor IAIN dua periode dan bergelar professor. Berdasarkan teori Bordieu, AJB telah memiliki modal sosial dan modal kultural sejak lama. Dengan bekal modal sosial sebagai mantan rektor, memungkinkan AJB memiliki relasi dan jaringan dengan mantan mahasiswa atau anak buahnya ketika di IAIN.
Sejumlah aktivis dan pentolan partai saat ini misalnya, merupakan tokoh yang lahir di era Rektor AJB. Seperti Ketua PDIP Edi Purwanto yang dulunya menjadi Presiden BEM IAIN ketika AJB berkuasa.
Begitu pula Juanda, Ketua GP Ansor Provinsi Jambi dan caleg jadi dari PKB itu eksis di masa kepemimpinan AJB.
Sejumlah aktivis dan mantan Presiden BEM IAIN yang hingga kini masih berhubungan baik dengan AJB, salah satunya Jafar Ahmad.
Kepemilikan modal sosial itu memungkinkan AJB bisa berelasi dengan tokoh-tokoh tersebut.
Ketika menjabat Rektor, bahkan AJB sempat dilirik Zulkifli Nurdin untuk dijadikan pendamping pada Pilgub 2005 silam.
Gelar profesor yang disandang membuat AJB punya modal kultural.
Selanjutnya modal ekonomi. AJB tak diragukan lagi soal kepemilikan uang dan aset. Ia termasuk tokoh yang kaya raya. Punya modal cukup untuk menjadi calon Gubernur Jambi.
Terakhir adalah modal simbolik. Dengan menjadi Rektor dua periode dan Walikota Sungai Penuh dua periode, secara otomatis AJB telah memiliki prestise, kehormatan dan karisma sebagai seorang pemimpin.
Karena itu, AJB adalah sosok yang memiliki empat modal sekaligus seperti yang digambarkan Bordieu.
“Yang terpenting, AJB punya modal ekonomi yang kuat, sehingga bisa mendrive modal-modal lainnya,”kata Jafar.
Maksudnya, modal ekonomi bisa digerakkan untuk memobilisasi atau mengkapitalisasi modal lain seperti modal sosial, modal kultural dan modal simbolik.
Sehingga keempat modal tersebut bisa digerakkan secara simultan untuk mendulang suara dan mendapat dukungan rakyat.
Belakangan ini, nama AJB memang mulai ramai dibincangkan. Ia dianggap layak menjadi calon Gubernur.
AJB bahkan sempat di gadang-gadang maju bersama Walikota Jambi Sy Fasha. Secara khusus Fasha sempat bertandang ke rumah pribadi AJB di Tanah Kampung, Kota Sungai Penuh. Hanya saja, hingga kini keduanya masih bungkam.
Baik Fasha atau AJB belum membongkar ke publik siapa yang diposisi nomor satu dan siapa di nomor dua. AJB kah atau Fasha kah?

Sumber : Jambilink.com