Hasil Survei Idea Institute: Fasha Berpeluang Besar di Pilgub Jambi 2020

Up

JAMBI-Walikota Jambi Sy Fasha bakal menjadi penantang signifikan Hasan Basri Agus (HBA) di Pilkada Gubernur (Pilgub) Jambi.

Berdasarkan hasil survey lembaga riset Idea Institute, hanya elektabilitas dua tokoh ini yang sama-sama dua digit jika dibandingkan dengan beberapa kandidat lainnya.

Lembaga Riset Idea Institute Indonesia melakukan survei pada 18-23 Februari 2019 lalu. Survei melibatkan 1.200 responden yang tersebar di seluruh Kecamatan se-Provinsi Jambi. Pada posisi itu, beberapa kandidat, termasuk Sy Fasha belum sama sekali melakukan sosilisasi, namun menariknya, elektabilitas Fasha lebih merata di seluruh daerah di Provinsi Jambi.
‘’Responden dipilih menggunakan metode multistage random sampling. Margin of error dalam survei ini kurang-lebih 2,9% dengan tingkat kepercayaan 95%,’’ jelas peneliti Idea Institute DR Jafar Akhmad.

Survei melibatkan responden jenis kelamin laki-laki 48 % dan  perempuan52 %. Idea Institut juga memetakan tingkat pendidikan warga Jambi.  Idea Institut memetakan kandidat potensial yang berpeluang maju di Pilgub Jambi 2020 mendatang. Ada tokoh lama ada tokoh baru. Tokoh lama yang muncul seperti HBA dan Fachrori Umar. Sementara, deretan nama baru ada SY Fasha, Walikota Sungai Penuh AJB, Cek Endra Bupati Sarolnagun, Muchlis Kapolda Jambi, Sukandar Bupati Tebo, dan Syafrial, Bupati Tanjbbar.

‘’Berdasarkan survei (Persentase dari total responden), tingkat elektabilitas HBA bertengger di posisi teratas mencapai angka 30,8 %. Sy Fasha, Walikota Jambi berada diposisi kedua dengan tingkat elektabilitas mencapai 14,7 %. Fasha memperoleh dukungan tertinggi di Kota Jambi (42,9%). Elektabilitas Fasha lumayan bagus di Muaro Jambi (22,8%) dan Tanjab Timur (15,9%). Urutan ketiga Fachrori Umar dengan elektabilitas 5,3%. Dukungan terhadap Gubernur Jambi itu hanya tinggi di Bungo (20,7%). Sementara di daerah lain tingkat elektabilitasnya masih rendah, di bawah angka 5 %. Sukandar menempati posisi keempat dengan tingkat elektabilitas mencapai 4,5%. Elektabilitas Sukandar hanya tinggi di Tebo (43,5%). Posisi kelima Walikota Sungai Penuh Asafri Jaya Bakri (AJB) dengan tingkat elektabilitas 2,9 %. E
AJB ada di Sungai Penuh (37,5%) dan Kerinci (19%). Sementara elektabilitas tokoh lainnya masih berada dibawah angka 2,7 %, seperti Bupati Tanjab Barat Syafrial, Kapolda Jambi Muchlis dan Bupati Sarolangun Cek Endra. Jumlah warga yang belum menyatakan pilihan sebanyak 35,2 %. Tertinggi berada di Kabupaten Bungo (59,5%) dan Tanjab Timur (52,4%),’’ beber doktor ilmu politik UI ini.

Angka ini menggambarkan bahwa HBA masih menjadi kandidat kuat untuk Pilgub Jambi mendatang. Fasha, walikota Jambi menempel HBA dengan perolehan suara cukup tinggi, mengalahkan gubernur Jambi yang sedang aktif, Fachrori Umar.

‘’Berdasarkan pengalaman survei Idea Institute dalam berbagai ajang pemilihan kepala daerah sebelumnya menunjukkan bahwa hanya tiga kandidat ini yang memiliki peluang besar untuk memperoleh suara signifikan. Meskipun tidak menutup kemungkinan, calon-calon lain, seperti AJB, CE, Muchlis, Sukandar, Syafrial, tetap memiliki peluang. Namun, itu akan membutuhkan upaya dan sumber daya yang begitu besar,’’ jelasnya.

Pergeseran Suara
Yang menarik dari hasil survei ini, kata Jafar, ketika peneliti menanyakan kepada responden, apa yang akan mereka putuskan jika HBA tidak mencalonkan diri sebagai Gubernur. SY Fasha memperoleh 20,2 % suara limpahan dari HBA. Kemudian suara HBA bergeser ke Fachrori Umar sebanyak 13,5 %. Selain itu, suara HBA yang bergeser ke kandidat lain berturut-turut adalah Cek Endra sebanyak 6,7 %. CE memperoleh limpahan suara paling banyak di Sarolangun, sebesar 4,3%. Selain itu suara HBA bergeser ke AJB (6,2%), Muchlis (4,3%), Syafrial (4%). Paling kecil suara bergeser ke Sukandar (0,9%).
‘’Jumlah yang menyatakan tidak tahu juga menjadi lebih kecil, hanya 44,2%. Data ini menunjukkan kompetisi semakin ketat jika tanpa HBA,’’ katanya.

Sementara itu, berdasarkan kandidat yang disurvei, sebutnya,  pola kontestasi Pilgub Jambi 2020 cenderung mengarah pada pertarungan kinerja vs politik identitas. Sy Fasha, CE, dan Syafrial akan mengekspos kinerja ketimbang membangun narasi primordialisme. Sedangkan FU, Muchlis, Sukandar, dan AJB akan lebih diuntungkan dengan posisi mereka dalam lingkungan primordial komunitas masing-masing di Jambi. ‘’Namun, sejauh pengamatan Idea Institute, politik identitas belum pernah menunjukkan pengaruh signifikannya di Jambi. Kemenangan Fasha di Kota Jambi, atau sebelumnya Bambang, menunjukkan heterogenitas masyarakat Kota Jambi. Begitupun Pilgub 2011 dan 2016 lalu, tidak ada peristiwa luar biasa yang menggambarkan bagaimana politik identitas (baca: etnik) bekerja secara efektif,’’ sebutnya.

Untuk itu, kata Jafar, kemungkinan besar, kandidat akan disibukkan oleh pertarungan dalam pembuktian kinerja yang telah mereka jalankan selama memerintah. Dari seluruh kandidat, hanya Muchlis yang belum pernah menjadi Bupati/ walikota.

‘’Menjadi tantangan tersendiri bagi Kapolda Jambi ini untuk menunjukkan ke public bahwa kinerjanya di Kepolisian memiliki dampak baik bagi kemajuan Jambi mendatang. Dan, hal itu bukan pekerjaan ringan, untuk tidak mengatakan itu pekerjaan sulit,’’ jelasnya.

Bagaimana dengan Ratu Munawwaroh? Idea Institut belum memiliki data cukup untuk menggambarkan posisi Ratu dalam kontestasi mendatang. Survei ini tidak memasukkan nama Ratu sebagai kandidat yang disurvei. Namun, melihat track recordnya yang pernah menjadi anggota DPR RI, istri mendiang Zulkifli Nurdin, dan memiliki popularitas yang cukup tinggi, keberadaan Ratu dalam kontestasi pasti akan memberi warna baru dalam pertarungan politik ini nantinya.

‘’Ratu, sejauh mendapat dukungan dari keluarga besar Nurdin dan dorongan PAN, akan memberi tantangan baru bagi seluruh kandidat yang disurvei,’’ pungkasnya.
Pengamat politik Jambi yang juga akademisi UIN STS Jambi DR Dedek Kusnadi yang juga dimintai komentarnya, mengatakan, jika Fasha maju di Pilkada Gubernur, ia tidak perlu mengundurkan diri dari posisinya sebagai walikota dan hanya cukup mengajukan cuti, sementara HBA, jika ingin maju, harus mengundurkan diri dari posisinya sebagai anggota DPR RI.
Fakta masih lamanya masa jabatan Fasha sebagai walikota Jambi ini tentu akan menjadi nilai plus, mengingat masyarakat dan ASN Kota Jambi masih dalam 1 bingkai hubungan emosional yang tinggi dengan  Fasha.

‘’Ini salah satu keuntungan dan keunggulan yang dimiliki oleh Sy Fasha. Selain itu, mata pilih di Kota Jambi berjumlah lebih dari 20 % suara se Provinsi Jambi, dan Fasha juga diuntungkan dengan geografis Kota Jambi selaku ibu kota provinsi dan Fasha dianggap sudah berhasil mensejajarkan Kota Jambi dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia,’’ jelasnya.

‘’Fasha juga tidak dalam posisi di penghujung masa jabatan walikotanya yang seolah-olah tidak siap pensiun dan masih akan terus berkarir. Karena masa jabatan Fasha masih sampai tahun 2023, sementara HBA, harus mengundurkan diri menjadi anggota DPR RI yang baru saja 6 bulan dijalani, sangat disayangkan,’’ sebutnya.

Menurut Dedek, keberhasilan Fasha mendatangkan para walikota seluruh Indonesia ke Jambi beberapa waktu lalu tentu juga menjadi nilai plus keberhasilan lobby Fasha di tingkat pusat. Ini tentu juga menjadi catatan tersendiri. ‘’Itu termasuk keberhasilan Pak Fasha, beliau memperlihatkan kepiawaiannya dalam melakukan loby-loby di tingkat pusat sehingga Jambi bisa jadi tuan rumah forum Apeksi seluruh Indonesia,’’ pungkasnya.
Sy Fasha yang dimintai komentarnya oleh koran ini, masih enggan  berkomentar banyak terkait namanya yang masuk sebagai calon kuat kandidat Gubernur Jambi.  Ia mengaku belum berpikir juah karena masih fokus dengan tugasnya sebagai Walikota . "Kita lihat nanti, paling tidak kita harus survey, harus ada persiapan," ujarnya.

Fasha menyebutkan, keputusan untuk ikut dalam kompetisi harus melalui pertimbangan yang matang. Jika sudah masuk, maka harus siap dengan program dan visi misi untuk membangun Provinsi Jambi.
"Kalau maju harus menang, jadi persiapannya harus yang matang. Jangan maju untuk meramaikan saja, tanpa ada program dan visi misi yang kuat," tuturnya.
Maka dari itu, Fasha belum memutuskan apakah akan turun dalam pertarungan Pilgub Jambi mendatang. "Kita lihat lagi lah nantinya bagaimana perkembangannya," tuturnya lagi.

Lantas bagaimana dengan kabar duet Sy Fasha- Asafri Jaya Bakri (AJB) setelah dirinya berkunjung ke Sungai Penuh? Fasha mengatakan jika semua itu merupakan hal yang wajar-wajar saja. "Saya ke Kerinci itu undangan dari STIKIP Muhammadiyah untuk memberikan kuliah umum sekaligus bakti sosial IMBI," katanya.
Dalam kunjungan itu, kata Fasha dirinya mendapat undangan AJB dalam rangka syukuran putrinya yang terpilih sebagai anggota DPRD Provinsi Jambi. "Waktu itu ada syukuran pak AJB, beliau mengundang saya.  Tapi saya belum sempat hadir. Tapi Paginya sebelum pulang saya sempatkan diri menemui beliau,” tukasnya.

Lalu, bagaimana komentar HBA? Dikonfirmasi koran ini beberapa waktu lalu, HBA mengaku belum menentukan sikap maju atau tidak di Pilkada Gubernur. Kendati demikian, dia tidak menampik adanya dorongan bagi dirinya untuk maju dari masyarakat.
‘’Banyak masyarakat yang mengatakan ke Saya langsung, kami tidak butuh bapak jadi anggota DPR RI, kami butuh bapak jadi gubernur,’’ katanya.

Namun dia menyebut tidak segampang itu dalam mengambil keputusan dan tidak bisa terburu-buru. ‘’Tidak segampang itu, kita lihat perkembangannya ke depan, tidak bisa berandai-andai,’’ pungkasnya.  (wan)